Batam, Sabtu (28/2/2026) — Pengabdian seorang anggota Kepolisian
Negara Republik Indonesia tak selalu terlihat di bawah sorot kamera. Di wilayah
perbatasan NKRI, tepatnya Kecamatan Siantan, Kabupaten Kepulauan Anambas,
Provinsi Kepulauan Riau, Aipda Raja Faisal Mushawir menjalani pengabdian sunyi
namun berdampak besar bagi kemanusiaan.
Pria kelahiran Tarempa, Juli 1986 ini telah mengabdikan diri
sebagai anggota Polri selama 21 tahun. Selain menjalankan tugas kepolisian,
sejak 2017 ia secara sukarela menjadi sopir mobil jenazah gratis bagi
masyarakat. Baginya, menjadi polisi adalah profesi, sementara mengantar jenazah
adalah panggilan hati.
Aipda Raja Faisal dikenal luas oleh warga sebagai sosok yang
selalu hadir ketika duka datang. Kapan pun diminta, ia siap mengantar jenazah
dari RSUD Tarempa ke rumah duka, dari rumah duka ke pemakaman, maupun dari
rumah ke rumah sakit. Tidak hanya bagi jenazah yang memiliki keluarga, tetapi
juga jenazah tanpa identitas serta dari kalangan non-Muslim.
Pengabdian kemanusiaan tersebut berawal dari kiprahnya di
organisasi sosial pengurusan jenazah Babul Khairat, yang bernaung di Masjid
Nurul Ihsan Tarempa. Saat organisasi tersebut mengalami keterbatasan, termasuk
ketiadaan sopir ambulans karena kendala pendanaan dan sebagian pengurus yang
telah lanjut usia, Aipda Raja Faisal menawarkan diri untuk membantu.
Sejak itulah, ia menjadi pengemudi tetap mobil jenazah
satu-satunya milik warga Desa Tarempa yang melayani hampir 20 ribu jiwa
masyarakat di Kecamatan Siantan, Siantan Tengah, dan Siantan Selatan. Mobil
jenazah pertama merupakan hibah pemerintah daerah yang telah dimodifikasi,
sebelum kemudian pada 2017 organisasi Babul Khairat menerima bantuan mobil
jenazah baru melalui Program Kemitraan Bank Riau Kepri.
Selama hampir satu dekade, Aipda Raja Faisal mengaku tidak lagi
mampu menghitung berapa banyak jenazah yang telah ia antarkan. Masa paling
berat ia rasakan saat pandemi COVID-19, ketika intensitas pelayanan meningkat
tajam. Selain mengantar jenazah, ia juga diminta mengawal evakuasi pasien
COVID-19 yang menolak karantina, mendampingi tenaga kesehatan, dan membantu
penanganan darurat di wilayah kepulauan yang hanya dapat dijangkau melalui
transportasi laut.
“Pernah terlintas di pikiran saya, saat mengantar jenazah di
tengah malam, mungkin suatu hari nanti saya juga akan berada di posisi yang
sama. Semua hanya soal waktu,” kenang Aipda Raja Faisal.
Dedikasi tersebut juga mendapat dukungan penuh dari keluarga.
Istrinya, Maryam, berprofesi sebagai bidan di Kecamatan Siantan dan kerap
menjadi rujukan masyarakat untuk berbagai persoalan kesehatan. Keduanya sering
bergandengan tangan membantu warga, mulai dari mengantar ibu melahirkan yang
tidak memiliki biaya, hingga mencarikan obat-obatan yang sulit diperoleh
melalui jejaring Pemolisian Masyarakat (Polmas).
Pengabdian tanpa pamrih itu berbuah kepercayaan dan kebersamaan
warga. Saat keluarga Aipda Raja Faisal membutuhkan donor darah
pasca-persalinan, masyarakat datang berbondong-bondong membantu. Bahkan,
dukungan sederhana seperti kiriman lauk makanan menjadi simbol kuatnya
keguyuban di tanah kelahirannya.
Dukungan juga datang dari pimpinan Polri. Setiap kali ada
panggilan kemanusiaan, pimpinan di Polsek Siantan, Polres Kepulauan Anambas,
hingga Polda Kepulauan Riau memberikan izin penuh. Hal ini karena apa yang
dilakukan Aipda Raja Faisal sejalan dengan tugas pokok Polri sebagai pelindung,
pengayom, dan pelayan masyarakat.
Atas dedikasi dan loyalitas tersebut, pada peringatan Hari
Kesadaran Nasional 2026, Aipda Raja Faisal Mushawir menerima penghargaan dari
Kapolda Kepulauan Riau, Irjen Pol. Asep Safrudin. Penghargaan diberikan sebagai
bentuk apresiasi atas kontribusi nyata dalam meningkatkan kepercayaan
masyarakat terhadap Polri, khususnya di wilayah perbatasan NKRI yang jauh dari
pusat perhatian.
Kisah Aipda Raja Faisal menjadi cermin Polri yang humanis dan
hadir sepenuh hati di tengah masyarakat. Sebuah pengabdian yang tidak hanya
menjaga keamanan dan ketertiban, tetapi juga menemani warga hingga perjalanan
terakhir kehidupannya.

0 Komentar